30 Macam Teori Komunikasi Menurut Para Ahli

30 Macam Teori Komunikasi Menurut Para Ahli
image by pexels.com

Teori komunikasi menjadi suatu bagian yang paling penting dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Untuk menjalin hubungan dengan orang lain adalah dengan komunikasi.

Keefektivitasan komunikasi yang terjadi akan menjadikan hubungan yang terjalin akan berjalan dengan baik. Ada banyak macam teori komunikasi menurut para ahli yang bisa menjadi rujukan kita untuk mempelajari disiplin ilmu komunikasi lebih lanjut.

Teori komunikasi adalah sebuah pandangan dan strategi yang membentuk alat atau rangka kerja untuk suatu perkara yang ingin dilaksanakan (wikipedia). Dalam prosesnya teori komunikasi akan membina bentuk dan kaidah yang hendak dibuat. Alat atau komponen tersebut saling berkaitan demi tersampaiannya pesan dari komunikator kepada komunikan.

Teori Komunikasi Menurut Para Ahli

Ilmu komunikasi merupakan studi yang berkembang pesat dibandingkan disiplin ilmu lainnya. Banyak ahli yang telah berkontribusi, sehingga menjadikan studi ini memiliki cakupan yang cukup luas. Dikutip dari pakarkomunikasi.com ada 30 macam teori komunikasi menurut ahli.

1. Teori Komunikasi Behaviorisme (Jhon B. Watson)

Teori ini dikembangkan oleh ilmuan berkebangsaan Amerika serikat Jhon B. Watson (1878 – 1958) cukup terkenal dikalangan akademisi. Teori yang di cetuskan Jhon B. Watson ini mencakup semua perilaku, termasuk respon (tindakan balasan) terhadap suatu stimulus (rangsangan). Artinya, bahwa ada kaitan antara stimulus dengan respon pada prilaku manusia. Jika seseorangan menerima stimulus, maka dapat diprediksi bentuk respon dari orang tersebut.

2. Teori Komunikasi Lasswell

Harold Lasswell, teoritikus yang banyak menyumbangkan ide dan pikirannya di cabang ilmu sosial dan komunikasi. Ia mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan hingga saat ini model tersebut masih diterapkan sebagai model komunikasi dasar. Model yang dicetuskannya seperti ini:

Who (Siapa) – Says What (Berbicara apa) – In Which Channel (Dengan Media Apa) – To Whom (Kepada Siapa) – With What Effect (Dengan efek apa)

3. Teori Informatif (Sannon Weaver)

Teori informatif adalah salah satu teori klasik, dimana teori yang menitikberatkan pada komunikasi sebagai suatu transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan media dalam berkomunikasi. Dalam teori informatif, jika sinyal media yang dipakai baik, maka komunikasi berjalan efektif. Namun sebaliknya, jika sinyal media yang digunakan tidak baik, maka komunikasi tidak berjalan lancar (1949, Sannon & Weaver)

Baca Juga:

4. Teori Komunikasi Humanisme (McNeil)

Teori ini dikemukanan oleh McNeil (1977) yang diilhami oleh perkembangan psikologi humanisme. Teori humanisme pernah diimplementasikan dalam curriculum humanistic. McNeil dalam teorinya lebih menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggung jawab bersama peserta didik. Dengan harapan, peserta didik dapat menyesuaikan diri dalam bermasyarakat.

5. Teori Agenda Setting (McCombs & Shaw)

Teori agenda setting mendeskripsikan bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media tersebut akan mempengaruhi publik/masyarakat menganggap peristiwa tersebut penting. Jadi, apa yang dianggap penting oleh media, maka hal tersebut juga penting bagi masyarakat. Berarti dalam hal ini media memiliki efek yang sangat kuat.

6. Teori Uses and Gratifications (Blummer & Katz)

Teori ini dikemukakan oleh Blummer dan Kartz (1974). Dalam teori ini mereka berpendapat bahwa penggunakan media berperan aktif dalam memilih media yang ingin digunakan. Sehingga, bisa dikatakan sebagai pihak utama dalam proses komunikasi. Pengguna memiliki pilihan dalam menentukan media untuk memuaskan kebutuhannya.

7. Teori Nativisme (Chomsky & Hadley)

Dalam teori nativisme ini Chomsky dan Hadley (1993) berpandangan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat berkomunikasi bahasa verbal. Selain itu, bahasa adalah sesuatu yang kompleks, menjadikan manusia senantiasa belajar untuk dapat berkomunikasi dengan makhluk lain.

8. Teori Konstruktivisme (Piaget & Vygotski)

Piaget dan vygotski (sebagai pencetus teori konstruktivisme beranggapan bahwa manusia selalu memiliki perspektif sendiri terhadap kenyataan, manusia senantiasa menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk menemukan bahasa pertama dan kedua. Teori ini juga mendefinisikan sebagai pembelajaran generatif. Pembelajaran yang merupakan bentuk tindakan untuk menciptakan suatu makna dari yang dipelajari.

9. Teori Kognitivisme (Piaget dalam Mansoer Pated)

Teori ini mengedepankan proses belajar dibandingkan dengan hasil proses. Menurut teori ini manusia belajar disebabkan oleh kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi di dalam lingkungan. Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan umur. Tahapan tersebut meliputi:

  • Asimilasi. Proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif.
  • Akomodasi. Proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru.
  • Disquilibrasi. Proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya.
  • Equilibrasi. Proses penyeimbang mental setelah terjadi asimilasi.

10. Teori Sibernatik (Nobert Wiener)

Teori sibernatik yang dicetuskan Nobert Wiener (1945). Sibernatik adalah teori sistem pengontrolan yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem. Pengontrolan sistem berfungsi dalam memperhatikan lingkungan. Penerapan teori ini biasanya diperuntukkan kepada siswa dengan tujuan mencapai hasil yang efektif.

11. Teori Inokulasi (Mc Guaire)

Teori inokulasi atau teori suntikan yang ditampilkan oleh Mc Guaire mengadaptasi analogi dari peristiwa medis. Dalam teori ini mengibaratkan orang yang terserang penyakit maka dia harus disuntik vaksi untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Demikian pula dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuasi atau dibujuk.

12. Teori Ketergantungan (Sandra Ball-Rokeach & Melvin Defleur)

Teori ini berfokus pada kondisi struktural yang ada di sosial masyarakat. Jadi, dalam teori ini memiliki kecenderungan mudah untuk dipengaruhi oleh media massa. Teori ini dapat disematkan pada komunitas masyarakat modern, dimana pada masyarakat modern, media massa adalah hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan pada beberapa proses. Diantaranya seperti proses memelihara, perubahan, serta konflik yang terjadi dalam tataran masyarakat dan permasalahan pribadi dalam aktivitas sosial.

13. Teori Spiral of Silence (Elizabeth Noelle & Neuman)

Teori spiral keheningan (Spiral of Silence) yang di kembangkan oleh Elizabeth Noelle dan Neuman (1976), menjelaskan bahwa teori ini berkaitan dengan bagaimana terbentuknya suatu opini atau pendapat umum dalam masyarakat. Spiral of Silence menjelaskan bahwa terbentuknya opini atau pendapat umum dalam masyarakat ditentukan oleh proses saling mempengaruhi antara komunikas mass, komunikasi antar individu, dan persepsi masing-masing individu serta hubungan dengan pendapat orang lain dalam suatu masyarakat.

14. Teori Kultivasi (George Gerbner)

Teori kultivasi adalah teori komunikasi yang menjelaskan mengenai efek dari komunikasi massa. Teori ini berpandangan bahwa media massa memiliki efek yang bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tatanan sosial budaya dalam ruang lingkup masyarakat dari pada personal individu. Teori ini dikembangkan oleh George Gerbner.

15. Teori Belajar Sosial (Bandura)

Teori belajar sosial ini dicetuskan oleh Bandura (1925). Ia menjelaskan bahwa perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku terdapat hubungan timbal balik yang berkesinambungan. Interaksi terlaksana antara perilaku kognitif dan pengaruh dari lingkungan. Pengelaman yang didapat dari observasi terhadap suatu informasi atau pesan yang tersampaikan menjadi suatu hal yang penting dalam teori belajar sosial ini.

Terdapat 4 tahapan dalam teori ini, diataranya adalah:

  • Pembelajaran sosial terjadi atas adanya perhatian dari individu.
  • Pembelajaran sosial dilakukan melalui ingatan.
  • Pembelajaran sosial dilakukan melalui tindakan.
  • Pembelajaran sosial dilakukan atas dasar motivasi dari masing-masing personal (individu).

16. Teori Norma Budaya

Teori ini terbentuk dari pada pengaruh media massa yang kuat mengenai suatu hal. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi sosial budaya pada suatu masyarakat. Informasi dari media massa dapat mengubah norma yang telah ada lama di dalam masyarakat, disisi lain teori ini dapat memperkuat norma yang telah ada dalam masyarakat. Terlebih lagi, dengan teori ini mampu menciptakan norma baru dalam masyarakat.

17. Teori Birokrasi (Max Weber)

Teori birokrasi dapat digunakan dalam komunikasi organisasi. Max Weber (1948) dalam teorinya ini mengungkapakan bahwa model birokrasi sering kali dimanfaatkan untuk mencapai komunikasi organisasi yang efektif. Menurutnya, ada 8 karakteristik struktural terkait birokrasi organisasi, yaitu sebagai berikut:

  • Hirarki organisasi yang terstruktur.
  • Terdapat aturan dan prosedur sesuai standar.
  • Kemampuan anggota yang mumpuni.
  • Memiliki kemampuan multi-tasking.
  • Mampu meminimalisir pekerja yang sulit.
  • Uraian tugas yang terstruktur dan teratur,
  • Profesionalitas yang tinggi.
  • Rasionalitas untuk mencapai keberhasilan.

18. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

Teori ini merupakan salah satu dari teori komunikasi massa. Teori ini menganggap bahwa kepercayaan individu kepada media akan berkembang jika kebutuhan informasional yang tidak dapat ditemukan dalam pengalaman langsung terpenuhi. Publik atau massa dinilai sangat tergantung pada media untuk mencapai suatu tujuan. Ini adalah pendekatan konsisten dengan gagasan dasar dari model penggunaan.

Little John, beranggapan bahwa ketergantungan seseorang dinilai dari jumlah dan sentralitas tentang fungsi informasi yang disajikan, serta kestabilitasan sosial. Jadi, semakin penting media terhadap individu, maka semakan semakin tinggi pula nilai dari media tersebut.

19. Teori Pengharapan Nilai

Teori penghargaan nilai merupakan bagian dari teori komunikasi massa. Teori ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media terhadap massa dinilai dari kepentingan penggunaannya. Perilaki seseorang terhadap segmen-segmen media dapat ditentukan dari evaluasi dan perspektif mereka terhadap media tersebut. Teori ini adalah turunan dari teori uses and gratifications

20. Teori Analisis Transaksional (Eric Berne)

Eric Berne (1964) mengungkapkan teori ini merupakan pendekatan dari psychotherapy yang menekankan hubungan interaksional. Transaksional yang dimaksudkan adalah sebagai hubungan komunikasi antar individu. Teori ini dimanfaatkan untuk mengetahui bentuk dan isi pesan yang disampaikan dalam suatu komunikasi.

Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat keefektifan komunikasi yang terbentuk antar individu.

21. Teori Sikap / Standpoint (Harding & Wood)

Teori ini menjelaskan salah satu cara terbaik untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia dimulai dari sikap atau sudut pandang wanita. Standpoint adalah sebuah tempat untuk memandang dunia sekitar. Dunia tersebut menjadi fokus perhatian dibandingkan objek atau fitur lainnya. Makna lainnya adalah tidak jauh berada dari perspektif. Menurut harding, fokus bahasa dari standpoint tersebut adalah wanita yang cenderung termarginalisasi. Hal tersebut menyebabkan teori ini merupakan turunan dari teori feminisme.

22. Teori Struktural Fungsional (August Comte, Emile Durkheim, & Herbert Spencer)

Teori ini adalah bangungan paling dasar dari ilmu sosial. Teori struktural fungsional dipengaruhi oleh pemikiran biologis yang menganggap masyarakat yang saling ketergantungan akibat konsekuensi dari bertahan hidup. Tujuannya adalah mencapai keteraturan sosial.

23. Teori Difusi Inovasi (Rogers)

Dalam teori ini menjelaskan bagaimana suatu inovasi disampaikan melalui saluran-saluran tertentu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Rogers (1961) juga menjelaskan bahwa difusi adalah bentuk komunikasi yang bersifat khusus dan berkaitan dengan penyebaran beberapa pesan yang berisi gagasan barus. Teori ini umumnya dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat.

Baca Juga:

24. Teori Komunikasi Administrasi

Teori komunikasi administrasi adalah proses penyampaian informasi yang dilakukan secara timbal balik antar anggota. Teori ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Penerapan teori ini berfungsi sebagai bentuk menjaga stabilitas informasi agar tercipta penyesuaian sikap yang memadai antar bagian dalam sebuah organisasi.

25. Teori Komunikasi Dua Tahap (Paul Lazarsfeld)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld terbentuklah teori komunikasi dua tahap ini. Teori ini membahas mengenai dampak media massa dan pertama kali diterapkan pada kampanye pemilihan umum 1940. Studi yang dilakukan memiliki asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek ke media massa.

26. Teori Systematic Behaviour (Clark C. Hull)

Clark C. Hull yang mendalami teori Thorndike dalam mengembangkan teori belajar dalam komunikasi. Beberapa prinsip memiliki kesamaan dengan prinsip para behaviours berdasarkan adanya stimulus, respon, dan motivasi. Dalam teori ini menjelaskan bahwa suatu kebutuhan atau kondisi terdesak oleh motif tujuan, maksud tertentu, harus dimiliki pada seseorang yang sedang belajar.

Kebutuhan tersebut harus ada sebelum suatu respon yang diperkuat oleh dasar pengurangan kebutuhan. Kemudian, untuk mencapai efisiensi belajar, tergantung pada besarnya tingkat pengurangan serta kepuasan motif. Kemudian menyebabkan timbulnya usaha belajar dari keberadaan respon tersebut. Disini lain, setiap situasi atau objek memiliki nilai motivasi apabila hal itu berhubungan dengan penurunan terhadap kekurangan pada diri individu tersebut.

27. Teori Connectionism (Thorndike)

Teori connectionism juga disebut teori trial and error. Dalam teori ini menjelaskan masing-masing organisme jika bertemu dengan situasi yang baru akan melakukan beberapa tindakan yang bersifat coba-coba secara terus menerus. Selanjutnya, apabila dalam usaha coba-coba tersebut secara tidak sengaja menimbulkan perbuatan yang dirasa memenuhi situasi, maka perbuatan tersebut akan terus diterapkan sebagai salah satu tindakan yang dinilai cocok dalam situasi tersebut. Percobaan yang dilakukan secara terus-menerus, maka akan membentuk suatu kebiasaan dan semakin efisien untuk diterapkan.

Berikut proses belajar menurut teori yang dikemukanaan oleh Thorndike, yaitu Law of Effect. Law of effect merupakan bentuk tingkah laku yang memberikan kepuasan sesuai tuntutan situasi yang ada. Sebaliknya, jika tingkah laku yang memberi efek negatif akan perlahan ditinggalkan. Ini terjadi secara alamiah, serta dapat dilatih berdasarkan syarat-syarat yang berlaku.

Thorndike juga berpandangan bahwa organisme adalah suatu mekanisme, yang hanya akan melakukan tindakan, respon, atau gerakan jika terdapat rangsangan yang memiliki pengaruh terhadap dirinya. Respon tersebut terjadi secara otomatis. Menurut Thorndike terjadinya otomatisme tersebut dikarenakan dari law of effect.

Dalam kehidupan sehari-hari, law of effect ini bisa dilihat saat pemberian penghargaan, dan juga pemberian hukuman dalam pendidikan. Hal ini menimbulkan reaksi antara hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang menghasilkan sesuatu yang kemudian disebut dengan hasil atau dampak (effect).

28. Teori Classical Conditioning (Pavlov & Watson)

Dalam teori ini, belajar merupakan suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions). Syarat-syarat tersebut menimbulkan respon atau reaksi. Yang membuat seseorang tersebut belajar, jadi keberadaan syarat tersebut dibutuhkan. Fokus dalam teori ini adalah pembelajaran yang terjadi secara otomatis setelah latihan-latihan yang dilakukan terus-menerus.

Beberapa penganut teori ini mengemukakan bahwa segala bentuk tindakan manusia adalah hasil daripada conditioning. Tindakan tersebut terbentuk dari latihan atau kebiasaanl, yang selanjutnya memberi respon terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

Teori ini memiliki kelemahan, karena menganggap bahwa belajar hanya terjadi secara otomatis, maka keaktifan dan penetuan pribadi pun diabaikan. Dalam melakukan tindakan, individu tidak semata-mata mengandalkan pengaruh dari luar. Kepribadian juga berperan penting dalam memilih atau menentukan respon yang akan dilakukan,

29. Teori Operant Conditioning (Skinner)

Skinner (1904-1990) pencetus teori ini, menganggap perhargaan dan motivasi adalah 2 faktor yang sangat penting dalam pembelajaran. Dia juga berpendapat bahwa tujuan psikologi dalam komunikasi berfungsi sebagai kontrol tingkah laku. Dalam teori ini, sang guru yang memberikan penghargaan hadiah atau nilai tinggi bertujuan agar anak menjadi lebih rajin. Operant conditioning juga merupakan suatu proses pemberi dorongan terhadap suatu perilaku yang kemudian membuat perilaku tersebut dapat berulang atau menghilang sesuai keinginan.

Teori ini menjamin respon terhadap rangsangan. Jika tidak ada tanda-tanda keberadaan stimuli (rangsangan), jadi guru tidak dapat membimbing siswa mengarahkan pada perilakunya. Guru mempunyai peran untuk mengendalikan dan membimbing siswa dalam proses belajar. Tujuannya untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan.

Prinsip belajar Skinners, diantaranya:

  • Hasil belajar harus disampaikan pada siswa. Jika terjadi kesalahan harus dibenarkan, dan jika benar diberi motivasi.
  • Proses belajar harus mengikuti pola dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.
  • Dalam prosespembelajaran, aktivitas individu lebih dipentingkan, sedangkan hukuman tidak diberlakukan. Jadi, lingkungan perlu di sesuaikan untuk menghindari hukuman.
  • Tingkah laku yang sesuai dengan keinginan pendidik wajib diberikan penghargaan, dan sebaliknya.
  • Dalam metode pembelajaran menggunakan shapping.

30. Teori Sikap

Teori sikap menjelaskan bahwa pengalaman individu, pengetahuan, dan perilaku komunikasi sebagian besar terbentuk dari kelompok sosial diaman mereka aktif (Wood, J. T., 1982 dalam West, R., & Turner, L. H., 2000). Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kerangka tentang sistematika pengarung kekuatan pembentuk identitas.

Sebagai contoh; secara budaya, bangsa Indonesia sebelum masa kemerdekaan dan awal kemerdekaan adalah bangsa yang guyub. Keguyuban ini pun terbawa pada kolektif-kolektif komunitas Islam. Seperti yang sudah kita kenal adanya komunitas pesantren NU, dan Muhamadiyyah pada masa sebelum kemerdekaan. Setelah kebijakan Presiden Soeharto di era tahun 1980an yang lebih dekat dengan islam, dan yang menyebabkan komunitas kolektif keIslaman menjadi semakin menjamur. Semakin banyaknya komunitas kolektif inilah yang cikal-bakal yang mempengaruhi kehidupan warga Indonesia yang lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengaruh media global telah tereduksi oleh keberadaan dan pengaruh komunitas kolektif yang memiliki high context culture.

Benefit Mempelajari Teori Komunikasi Menurut Para Ahli

Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari interaksi komunikasi dengan makhluk lain. Komunikasi yang menjadi jembatan bagi manusia dalam menjalin hubungan sosialnya. Hal tersebut menjadikan teori komunikasi untuk dipahami sangatlah penting.

Benefit seperti apa yang akan didapatkan mempelajari teori komunikasi menurut para ahli? Secara teoritis manfaat utama yang kita dapat adalah pandangan ilmu yang luas mengenai studi komunikasi itu sendiri. Berbagai teori komunikasi yang tercetus dari para ahli berdasarkan proses kajian dan penelitian yang secara praktis terdapat pada realitas kehidupan sehari-hari.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *