Apa itu Startup? Mengenal Sejarah dan Perkembangan Startup di Indonesia

Mengenal Sejarah Perkembangan Startup di Indonesia
photo by unsplash/franckinjapan

Munculnya tech startup belakangan ini, ikut membantu pertumbuhan ekonomi di sektor ekonomi digital. Peran startup dalam menyerap angkatan kerja meminimalisir jumlah pengangguran di Indonesia. Lalu, apa itu startup? Apa pengertian bisnis startup? Bagaimana perkembangan startup di Indonesia? Dan, seberapa besar peluang di industri tech startup ini? Untuk mengetahui secara lengkap, mari kita ulas lebih dalam.

Apa itu Startup?

Dikutip dari situs wikipedia, arti startup adalah merujuk pada lembaga atau perusahaan yang bergerak dibidang bisnis teknologi yang belum beroperasi untuk waktu yang lama. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar adalah perusahaan yang baru didirikan dan sedang dalam tahap pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Pada dasarnya, mungkin masih banyak orang yang tidak mengerti istilah ini. Istilah kata “startup” itu sendiri adalah penyerapan dari Bahasa Inggris, yang berarti tindakan atau proses memulai organisasi atau usaha bisnis baru atau lebih tepatnya bisnis rintisan.

Definisi startup yang dijelaskan di atas mungkin lebih cenderung pada makna secara terminologi, tetapi menurut saya akan lebih mudah jika istilah startup didefinisikan sebagai perusahaan rintisan atau bisnis baru yang sedang di fase pengembangan.

Perkembangan tech startup dimulai pada akhir 90-an hingga 2000-an, istilah startup sering ‘dipasangkan’ dengan segala apapun yang berbau dengan teknologi, website, aplikasi, internet, dan yang terkait dengan domain itu.

Baca Juga: Apa itu e-Commerce? Potensinya Bagi Pertumbungan Ekonomi Digital Indonesia

Sejarah Singkat Perkembangan Bisnis Startup

Jika kita sedikit flashback ke belakang, penggunaan istilah startup dalam hal yang berkaitan dengan teknologi, situs web, internet, aplikasi, software dan lainnya, karena kemunculan istilah startup itu sendiri mulai mendapatkan popularitas internasional seiring dengan fenomena bubble dotcom.

Lalu, apa itu bubble dot com? Fenomena buble dot-com adalah ketika banyak perusahaan dotcom didirikan secara bersamaan pada saat itu (1998-2000). Pada saat itu, banyak perusahaan yang gencar membuka situs web pribadinya. Semakin banyak orang tahu internet sebagai bidang baru untuk memulai bisnis. Dan pada saat itu startup lahir dan dikembangkan.

Akan tetapi, menurut Ronald Widha dari temanmacet.com, bisnis rintisan bukan hanya perusahaan baru yang berhubungan dengan teknologi, dunia maya, aplikasi atau produk digital, tetapi juga bisa mengenai layanan dan pergerakan ekonomi kerakyatan yang dapat tumbuh secara mandiri tanpa bantuan dari korporasi yang lebih besar dan perusahaan yang mapan.

Setelah mencari-cari informasi tentang topik start up di internet dan sumber-sumber yang valid, ada informasi tentang karakteristik perusahaan yang dapat diklasifikasikan sebagai bisnis rintisan. Beberapa ciri dan karakteristik dari perusahaan bisnis rintisan adalah sebagai berikut:

  • Usia perusahaan kurang dari 3 tahun.
  • Jumlah karyawan tidak lebih dari 20 orang.
  • Penghasilan kurang dari $ 100.000 / tahun.
  • Masih dalam tahap pengembangan (development).
  • Umumnya bekerja di bidang teknologi (Tech Industry).
  • Produk dibuat dalam bentuk aplikasi dalam bentuk digital.
  • Biasanya menjalankan bisnisnya melalui situs web.

Karakteristik ini dapat menunjukkan bahwa start up lebih cenderung ke perusahaan yang terlibat dalam teknologi dan internet. Faktanya adalah, sekarang pengembangan perusahaan yang biasa disebut dengan start up adalah perusahaan teknologi dan online serta berbasis aplikasi.

Perkembangan Tech Startup di Indonesia

Perkembangan perusahaan startup di Indonesia dapat dianggap cukup cepat dan pesat. Setiap tahun, bahkan setiap bulan, ada banyak perusahaan rintisan baru yang bermunculan.

Dilansir dari dailysocial.net, saat ini setidaknya ada lebih dari 1500an perusahaan startup lokal di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang meningkat dari tahun ke tahun tentu menjadi pertimbangan sebagai lahan basah untuk mendirikan startup.

Berdasarkan beberapa penelitian, diperkirakan pengguna internet di Indonesia mencapai 170 juta orang pada tahun 2018 saja. Dan berdasarkan data yang dirilis oleh APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) terjadi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sekitar 10.12% pertahunnya.

Dari data pertumbuhan pengguna internet Anda dapat membayangkan berapa banyak pengguna internet Indonesia di tahun-tahun mendatang. Selain itu, meningkatnya daya beli masyarakat seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita negara ini juga telah mempengaruhi perkembangan industri digital.

Menurut Rama Mamuaya, CEO dailysocial.net, start up di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

  • Perusahaan Game Developers (Pengembang Game)
  • Perusahaan Developer Aplikasi Edukasi
  • e-Commerce seperti marketplace

Menurutnya, perusahaan rintisan di industri game dan aplikasi edukasi memiliki potensi dan pasar terbuka di Indonesia. Ini karena proses pembuatan game dan aplikasi pendidikan relatif lebih mudah.

Dengan perkembangan media sosial dan smartphone, pasar untuk game seluler dan game sosial sangat besar. Sementara itu, untuk aplikasi atau situs web yang berhubungan dengan e-commerce dan informasi, Rama menilai bahwa tantangan e-commerce di Indonesia masih cukup signifikan karena masih minimnya penggunaan kartu kredit. Sementara itu, startup di industri informasi atau berita tentang berbagai topik, pengembangannya jauh lebih pesat.

Di Indonesia, sudah ada banyak komunitas pendiri Startup, diantaranya seperti:

  • Bandung Digital Valley (bandungdigitalvalley.com)
  • Jogja Digital Valley (jogjadigitalvalley.com)
  • Ikitas (www.ikitas.com) Inkubator Bisnis di Semarang
  • Stasiun (stasion.org) tempat bagi bisnis rintisan lokal di kota Malang
  • dan banyak lagi

Melalui komunitas ini, tentu akan memudahkan para pendiri (founder) untuk berbagi, membimbing dan bahkan menarik investor. Para pendiri juga dapat berpartisipasi dalam kompetisi dari berbagai perusahaan seperti Telkom dan lainnya untuk menjadi investor mereka.

Yang paling penting dalam membangun bisnis startup adalah tim yang solid, karena tim yang solid dapat menciptakan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Dengan ide dan implementasi yang tepat, para pendiri tentu saja tidak akan kesulitan menarik minat publik atau mencari investor.

Baca Juga: Apa itu UMKM? Peran dan Fungsinya Bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Dalam sebuah wawancara oleh wartawan Warta Ekonomi kepada Molly Nagler (Mentor Startup Silicon Valley), Molly mengatakan bahwa hampir semua Startup gagal, tetapi kegagalan itu tidak boleh dianggap negatif karena memiliki banyak sisi positif.

Intinya adalah bahwa jika bisnis rintisan gagal selama menjalankan, itu memiliki kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru dan pengetahuan baru, seperti konsep trial and error secara umum.

Startup lokal yang sekarang berhasil seperti Tokopedia, Gojek, Ruangguru, Traveloka, Bukalapak dan banyak lainnya. Semoga bisnis rintisan lokal Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang sehingga dapat menjangkau pengguna internet internasional seperti Google, Alibaba, Amazon, Etsy, Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, Pinterest, Uber, AirBNB, PUBG, Fortnite, Netflix, Spotify, Shopify, dan tech giant lainnya.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *