3 min read

Arti Istilah Nepotisme, Definisi, Ciri, Karakteristik, Jenis, dan Contohnya

Arti Istilah Nepotisme, Definisi, Ciri, Karakteristik, Jenis, dan Contohnya

Arti kata nepotisme digambarkan sebagai seseorang yang memanfaatkan peran atau posisinya untuk memprioritaskan kebutuhan keluarga atau kerabatnya di atas kepentingan umum dengan memilih individu berdasarkan koneksi atau kedekatan keluarga daripada keterampilan yang mereka miliki. Umumnya, praktik nepotisme ini menjadi alat seseorang untuk memudahkan kerabatnya dalam menempati suatu jabatan yang berlandaskan tali persaudaraan.

Menurut sudut pandang lain, nepotisme adalah fenomena di mana orang dalam posisi otoritas atau kendali memilih kerabat atau rekan pribadi, misalnya, dengan memberikan posisi atau pekerjaan yang berpengaruh semata-mata atas dasar kedekatan dan bukan kapasitas.

Ungkapan “nepotisme” berasal dari kata Latin “nepos”, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Sehingga, nepotisme dapat digambarkan sebagai tindakan memilih orang semata-mata atas dasar kekerabatan atau kedekatan, bukan keterampilan mereka.

Arti Nepotisme Menurut Para Ahli

Agar dapat memahaminya secara menyeluruh, berikut ini pendapat para ahli mengenai arti nepotisme itu:

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, nepotisme diartikan sebagai:

  1. kesukaan yang berlebihan pada kerabat dekat;
  2. kecenderungan untuk memprioritaskan (menguntungkan) kerabat sendiri, terutama dalam posisi dan pangkat dalam jabatan pemerintah;
  3. tindakan memilih kerabat atau kerabat sendiri untuk memegang posisi pemerintahan.

2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Yang dimaksud dengan nepotisme menurut Pasal I angka 5 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah perbuatan Penyelenggara Negara terhadap hukum yang menguntungkan kepentingan keluarga dan / atau kroninya di atas kepentingan penduduk, negara, dan negara.

Baca Juga: Pengertian Asimilasi dan Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Asimilasi

3. Komaruddin Hidayat

Arti nepotisme, menurut Komaruddin Hidayat, adalah cara pengangkatan, penempatan, pengangkatan, dan promosi yang tergantung pada hubungan darah, kerabat, atau teman.

Karakteristik

Nepotisme Nepotisme dapat diidentifikasi dengan melihat salah satu fiturnya. Di bawah ini adalah ciri-ciri nepotisme menurut pengertian nepotisme:

  • Penerapan suatu kebijakan / kebijakan biasanya dilakukan dengan cara yang menindas.
  • Pekerjaan tertentu ditugaskan atau ditempatkan bukan karena bakat atau pengalaman, tetapi karena hubungan keluarga atau kedekatan.
  • Integritas seseorang dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya patut dipertanyakan. Misalnya, menutup pintu bagi mereka yang memiliki hak dan kemampuan.
  • Ada ketidakkonsistenan dan ketidaksetaraan dengan cara ilmu pengetahuan dijalankan dan layanan disediakan. Pekerja tertentu, misalnya, memiliki upah yang lebih tinggi meskipun kenyataannya pekerjaan mereka lebih baik dan membutuhkan lebih sedikit usaha.

Dampak Nepotisme

Cara seseorang bertindak Nepotisme berpotensi merusak tatanan masyarakat secara keseluruhan. Di bawah ini adalah beberapa konsekuensi dari nepotisme:

  1. Diskriminasi dalam mengejar peluang untuk pertumbuhan atau kemajuan profesional dalam profesi seseorang. Banyak yang bergabung melalui sistem perekrutan resmi akan mengalami penurunan semangat kerja dan efisiensi sebagai akibatnya.
  2. Terjadinya perselisihan kesetiaan organisasi, terutama jika anggota keluarga memegang posisi kewenangan pengawasan langsung atas anggota keluarga lainnya.
  3. Nepotisme berpotensi menghambat perkembangan orang lain. Terutama jika orang tersebut memiliki masalah pribadi dengan salah satu anggota keluarga pemimpin atau pemilik bisnis.
  4. Maraknya sikap pragmatisme dalam masyarakat, dimana memperoleh pekerjaan atau status tertentu lebih diraih oleh nepotisme daripada persaingan dan prosedur.
  5. Karena nepotis tidak lagi memikirkan pendidikan atau kepentingan kolektif, melainkan tentang keuntungan pribadi dan keluarga, potensi bahaya sosial (bisnis, budaya, masyarakat, dan agama) akan jauh lebih besar.

Baca Juga: Arti Kata Konvensional

Bentuk Nepotisme Yang Umum Terjadi

Praktik nepotisme dapat diklasifikasikan ke dalam banyak kategori. Di bawah ini adalah bentuk-bentuk nepotisme, sebagaimana didefinisikan oleh definisi nepotisme:

1. Nepotisme Antara Orang Tua dan Anak

Nepotisme ikatan keluarga adalah jenis nepotisme yang paling dasar dan mudah dikenali. Jabatan tertentu dalam pelayanan publik, misalnya, dipegang oleh anggota keluarga yang sama. Kemiripan wajah dan nama belakang yang sama menunjukkan hal ini.

2. Tribalisme di Perguruan Tinggi

Kolese Nepotisme Tribalisme adalah bentuk nepotisme yang didirikan di atas warisan kolese atau departemen yang sama. Misalnya, organisasi yang kepemimpinannya berasal dari universitas tertentu hanya mempekerjakan orang dari universitas tersebut untuk peran kunci.

3. Tribalisme di Tempat Kerja

Nepotisme yang berpusat pada kelompok semacam itu, seperti organisasi profesi, partai politik, dan lain-lain, dikenal dengan istilah organisasi tribalisme. Pertimbangkan pengangkatan anggota dari partai politik yang sama untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan.

4. Institutional Tribalism

Organizational Tribalism adalah salah satu bentuk nepotisme yang pelakunya berasal dari instansi yang sama dengan majikan barunya. Seorang kepala bisnis, misalnya, dapat berpindah posisi, membawa pekerja lain bersamanya ke lokasi baru.

Baca Juga: Pengertian K3, Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Bagi Karyawan dan Perusahaan

Contoh Nepotisme

Nepotisme dapat dilihat di berbagai bidang, termasuk perdagangan, politik, hiburan, agama, atletik, dan berbagai macam lainnya. Di Indonesia, pemerintahan Orde Baru banyak terlibat dalam nepotisme, yang merupakan salah satu faktor pencetus gerakan reformasi pada tahun 1998. Berikut ini beberapa contoh manifestasi umum nepotisme:

  • Jika ada warga negara lain yang lebih berkualitas dan berhak, pejabat penting pemerintah memilih anggota keluarganya sebagai kepala kantor.
  • Bukan karena kesuksesan atau keahliannya, tetapi karena hubungan keluarga atau kedekatan, seorang bos bisnis menaikkan gaji atau memberikan peran kunci kepada orang lain.
  • Pejabat pemerintah memberikan tender proyek pemerintah kepada perusahaan tertentu bukan karena perusahaan tersebut memenangkan tender tersebut, tetapi karena terkait dengan perusahaan tersebut.

Kesimpulan

Jika dilihat dari sudut kemampuan untuk mendukung kesuksesan organisasi atau perusahaan, nepotisme bisa menjadi alat yang sangat efektif. Namun, jika Anda mempekerjakan orang yang salah, itu mungkin membuat masalah baru dalam manajemen.

Sumber:: maxmanroe.com