Apa Saja Gejala Umum Pada Penyakit Jantung dan Cara Mendiagnosisnya?

Pahami Gejala Umum Pada Penyakit Jantung dan Bagaimana Cara Mendiagnosisnya?
Photo by freestocks.org from Pexels

Penyakit jantung adalah kondisi yang akan mempengaruhi langsung kinerja jantung seseorang, seperti penyakit koroner dan aritmia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, penyakit jantung merupakan penyebab atas 1 dari 4 kematian di Amerika Serikat setiap tahunnya. Dengan mengetahui gejala umum pada penyakit jantung, maka Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk meminimalisir resiko yang lebih besar.

Untuk mendiagnosis penyakit jantung, dokter akan melakukan serangkaian tes serta evaluasi yang holistik. Mereka juga akan menggunakan serangkaian tes tersebut untuk mengetahui penyakit jantung Anda, sebelum Anda menunjukan gejala-gejala yang lebih nyata.

Gejala Umum Penyakit Jantung

Berikut ini adalah gejala umum penyakit jantung yang bisa Anda ketahui, seperti:

  1. Pingsan
  2. Melambat atau men cepatnya detak jantung
  3. Sesak dan nyeri dibagian dada
  4. Sesak napas
  5. Pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, atau perut secara tiba-tiba

Jika Anda memiliki gejala-gejala tersebut, sebaiknya Anda harus segera berkonsultasi kepada dokter spesialis jantung. Dengan diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu menurunkan risiko komplikasi, seperti serangan jantung ataupun stroke. Berikut adalah cara penanganan yang tepat untuk menghindari risiko yang lebih tinggi.

1. Pemeriksaan tes darah

Selama konsultasi, terlebih dahulu dokter akan menanyakan tentang gejala dan riwayat kesehatan keluarga Anda. Biasanya, mereka akan memeriksa detak jantung serta tekanan darah Anda.

Dokter juga akan melakukan tes darah. Misalnya, seperti mengecek kolesterol dalam kadar lemak dan kolesterol dalam aliran darah Anda. Selanjutnya, dokter dapat menggunakan tes tersebut untuk menentukan risiko penyakit jantung dan serangan jantung. Tes kolesterol akan memeriksa empat jenis lemak dalam darah Anda, yaitu:

  • Kolesterol total, yaitu jumlah seluruh kolesterol dalam darah pasien.
  • Kolesterol low-density lipoprotein (LDL), sering disebut kolesterol “jahat”. Jika terlalu banyak maka akan menyebabkan lemak menumpuk di arteri, yang menghambat aliran darah. Kondisi ini dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung.
  • Kolesterol high-density lipoprotein (HDL), sering disebut kolesterol “baik”. Kondisi ini membantu membawa kolesterol LDL dan akan membersihkan pembuluh arteri.
  • Trigliserida, yaitu sejenis lemak dalam darah. Kadar trigliserida yang tinggi sering dikaitkan dengan diabetes, merokok, dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Dokter juga akan melakukan tes C-reactive protein (CRP) untuk memeriksa tubuh pasien apakah ada tanda-tanda peradangan. Umumnya, mereka dapat menggunakan hasil tes CRP dan kolesterol tersebut untuk menilai risiko penyakit jantung pasien.

2. Pemeriksaan non-invasif untuk penyakit jantung

Setelah selesai melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah, dokter juga melakukan tes non-invasif tambahan. Noninvasif berarti tes tersebut tidak melibatkan alat yang merusak kulit atau secara fisik masuk ke dalam tubuh. Ada banyak tes non-invasif yang tersedia untuk membantu dokter dalam memeriksa penyakit jantung, yaitu:

  1. CT scan

    CT scan menggunakan beberapa gambar X-ray untuk membuat gambar penampang jantung Anda. Dokter umumnya menggunakan berbagai jenis CT scan untuk mendiagnosis penyakit jantung. Misalnya, menggunakan pemindaian jantung skrining skor kalsium untuk memeriksa timbunan kalsium di arteri koroner. Atau dengan menggunakan angiografi CT koroner untuk memeriksa timbunan lemak atau kalsium di arteri pasien.
  2. MRI jantung

    Dalam MRI, magnet besar dan gelombang radio membuat gambar bagian dalam tubuh pasien. Selama tes MRI jantung, ahli membuat gambar pembuluh darah dan jantung saat sedang berdetak. Setelah tes tersebut , dokter menggunakan gambarnya untuk mendiagnosis berbagai macam kondisi, seperti penyakit otot jantung dan penyakit arteri koroner.
  3. Elektrokardiogram

    Elektrokardiogram (EKG) adalah tes singkat yang memantau aktivitas listrik pada jantung pasien. Pemeriksaan mencatat aktivitas di selembar kertas. Dokter menggunakan tes ini untuk memeriksa detak jantung yang tidak teratur atau kerusakan pada jantung.
  4. Ekokardiogram

    Ekokardiogram adalah USG jantung. Yaitu dengan menggunakan gelombang suara untuk membuat gambaran jantung Anda. Dokter menggunakannya untuk memeriksa katup jantung, arteri dan otot jantung pasien.
  5. Monitor Holter

    Jika dokter ingin memantau aktivitas jantung Anda selama 24 hingga 48 jam, mereka akan meminta Anda untuk memakai perangkat yang disebut monitor Holter. Mesin kecil tersebut bekerja seperti EKG yang kontinyu. Dokter menggunakannya untuk memeriksa kelainan jantung yang tidak terdeteksi pada EKG normal, seperti aritmia, atau detak jantung tidak teratur.
  6. Tes stres

    Untuk mendiagnosis masalah jantung, dokter perlu memeriksa pasien saat melakukan aktivitas berat. Selama tes stres tersebut, mereka mungkin meminta Anda untuk mengendarai sepeda statis, berjalan kaki atau berlari di atas treadmill selama beberapa menit. Kemudian mereka akan memantau reaksi tubuh Anda terhadap stres saat detak jantung meningkat.
  7. USG karotis

    Pemindaian dupleks karotis menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar arteri karotis di kedua sisi leher pasien. Tes ini membantu dokter untuk memeriksa penumpukan plak di arteri dan menentukan risiko stroke.
  8. Rontgen dada

    Rontgen dada menggunakan sejumlah kecil radiasi untuk membuat gambar dada, termasuk jantung. Hal Ini dapat membantu dokter untuk menentukan penyebab sesak napas atau nyeri dibagian dada.
  9. Tes tilt table

    Dokter bisa melakukan tes meja miring jika pasien pingsan. Mereka akan meminta pasien untuk berbaring di atas meja yang bergerak dari posisi horizontal ke vertikal. Ketika meja bergerak, mereka akan memantau detak jantung, tekanan darah, dan tingkat oksigen pasien. Hasilnya dapat membantu dokter dalam menentukan apakah pingsan tersebut disebabkan oleh penyakit jantung atau kondisi lainnya.

3. Pemeriksaan invasif untuk mendiagnosis penyakit jantung

Terkadang pemeriksaan non-invasif tidak memberikan hasil klinis yang memuaskan. Dokter perlu menggunakan prosedur invasif untuk mendiagnosis penyakit jantung. Prosedur invasif melibatkan alat yang secara fisik yang dimasukan kedalam tubuh, seperti jarum, tabung, atau teropong (scope). Adapun pemeriksaan invasif diantaranya seperti:

  1. Angiografi koroner dan kateterisasi jantung

    Dokter akan memasukkan selang fleksibel panjang melalui pembuluh darah di selangkangan atau bagian lain dari tubuh. Kemudian, dokter akan memindahkan tabung tersebut ke jantung Anda. Dokter menggunakannya untuk melakukan pemindaian guna memeriksa masalah pembuluh darah dan kelainan jantung.

    Misalnya, dokter menyelesaikan angiografi koroner dengan kateterisasi. Selanjutnya, dokter akan menyuntikkan pewarna khusus ke dalam pembuluh darah jantung. Lalu, jantung dipindai dengan sinar-X untuk melihat arteri koroner Anda. Umumnya, dokter menggunakan tes ini untuk mencari arteri yang menyempit atau tersumbat.
  2. Studi elektrofisiologi

    Jika Anda memiliki detak jantung yang abnormal, maka dokter akan melakukan studi elektrofisiologi untuk menentukan penyebab dan rencana perawatan terbaik. Selama tes tersebut, dokter memasukkan kateter elektroda melalui pembuluh darah ke jantung pasien. Kemudian, elektroda ini digunakan untuk mengirim sinyal listrik ke jantung dan memetakan aktivitas listriknya.

    Umumnya, dokter mencoba memulihkan detak jantung kembali normal dengan meresepkan beberapa obat atau perawatan lain.

Kesimpulan

Dengan mengetahui gejala dan diasnogtik yang tepat risiko penyakit jantung dapat diminimalisir. Selain itu, dengan tetap menerapkan gaya hidup sehat dapat membuat jantung lebih sehat.

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *