Pengertian Break Even Point (BEP) dan Cara Menghitungnya Dalam Bisnis

Pengertian Break Even Point (BEP) dan Cara Menghitungnya Dalam Bisnis
Photo by Lukas from Pexels

Saat menjalankan suatu bisnis, setiap pengusaha pasti mengalami kerugian dan keuntungan. Keuntungan diperoleh jika jumlah pendapatan lebih besar dari seluruh biaya yang ditimbulkan oleh proses produksi. Sementara itu, seorang pengusaha akan dikatakan rugi jika seluruh penghasilannya tidak dapat menutupi biaya produksi yang dikeluarkannya. Untuk menghindari resiko kerugian tersebut, maka kita perlu mengetahui yang namanya BEP atau Break-even Point atau titik impas.

Titik impas atau break even point (BEP) adalah suatu kondisi dimana jumlah pengeluaran yang dibutuhkan untuk biaya produksi sama dengan jumlah pendapatan yang diterima dari penjualan. Akibatnya, perusahaan tidak mengalami untung atau rugi. Dalam istilah akuntansi, kondisi ini disebut disebut break-even point atau titik impas.

Keuntungan Menghitung BEP Dalam Menjalankan Bisnis

Salah satu keuntungan utama menghitung BEP adalah Anda mengetahui berapa harga jual minimum yang perlu Anda tentukan agar tidak mengalami kerugian. Tanpa memperhitungkan BEP, harga jual yang akan ditetapkan mungkin terlalu rendah dan pengusaha dapat mengalami kerugian.

Selain harga jual, Anda juga bisa menghitung berapa unit yang perlu diproduksi agar total keuntungan bisa menutupi pengeluaran bisnis. Bagi yang masih pemula dan belum mengetahui apa itu BEP, tentunya akan sulit bagi dalam menentukan harga jual dan laba yang akan dipertimbangkan. Oleh karena itu, setelah menghitung harga pokok penjualan, hitung juga BEP sebelum menentukan harga jual produk.

Unsur-Unsur Pembentukan Titik Impas

Sebelum kita menghitung BEP, terlebih dahulu kita harus mengetahui komponen mana saja yang menyusun break even point ini, diantaranya:

  • Biaya tetap atau fixed cost (FC)

Biaya tetap adalah salah satu biaya yang harus ditanggung oleh pemberi kerja, terlepas dari apakah ia melakukan proses produksi atau tidak sama sekali. Biaya tetap meliputi gaji karyawan, biaya sewa gedung, dan biaya penyusutan.

  • Biaya variabel per unit atau variable cost (VC)

Berbeda dengan biaya tetap, jumlah biaya variabel dipengaruhi oleh jumlah unit yang diproduksi. Contoh biaya variabel adalah biaya yang timbul dari pembelian bahan baku, pembayaran air, listrik dan tagihan telepon.

  • Harga jual per unit atau price (P)

Istilah ini adalah harga yang ditentukan oleh pengusaha untuk setiap unit produksi yang diproduksi. Harga jual diperoleh dari harga pokok barang ditambah jumlah keuntungan yang akan diperoleh.

BEP merupakan suatu kondisi dimana jumlah pengeluaran yang diperlukan untuk biaya produksi sama dengan jumlah pendapatan yang diperoleh dari penjualan.

Rumus Menghitung Break Even Point

Dalam penghitungan BEP, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu BEP untuk unit dan BEP untuk penjualan. Yang dimaksud dengan satuan BEP adalah berapa jumlah barang yang akan diproduksi untuk memperoleh BEP. Perhitungan ini diperoleh dari total biaya tetap dibagi harga jual dikurangi harga variabel.

Rumus BEP unit
BEP = FC : (P – VC)

Sedangkan BEP penjualan yaitu jumlah penjualan yang harus diperoleh untuk menutup BEP. Seperti yang dihitung sebagai berikut.

Rumus BEP Penjualan
BEP = FC 1 – (VC / P)

Misalnya dengan fixed cost Rp. 20 juta dan biaya variabel Rp. 10.000 dan harga jual per unit barang Rp. 15.000. Harus mendapatkan BEP?

BEP Unit = FC: (P – VC)
BEP Unit = Rp 20.000.000 : (Rp 15.000 – Rp 10.000)
BEP Unit = 4000

BEP Penjualan = FC : (1 – (VC / P))
BEP Penjualan = Rp 20.000.000 : (1 – (Rp. 10.000 / Rp 15.000 ))
BEP Penjualan = Rp 60.000.000

Dengan demikian dari perhitungan sebelumnya, untuk mendapatkan syarat BEP, perusahaan harus memproduksi 4.000 unit dan menghasilkan penjualan sebesar Rp 60.000.000.

Kesimpulan

Perhitungan BEP sangat penting dalam menentukan jumlah unit yang akan diproduksi dan besaran harga jual yang akan diperoleh agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

sumber: sleekr.co/blog

1 Shares:
Leave a Reply