Pengertian dan Konsep Pendapatan Nasional, Serta Rumus Menghitunganya

Pengertian dan Konsep Pendapatan Nasional, Serta Rumus Menghitunganya
Photo by Kaleidico on Unsplash

Istilah pendapatan nasional akhir-akhir ini memang sering terdengar ditelinga kita. Segala kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seorang warga negara akan sedikit banyak mempengaruhi pendapatan nasional. Pasalnya, pendapatan domestik disebut juga produk domestik bruto (PDB) yang dihitung dari besarnya pendapatan yang diterima seluruh keluarga rumah tangga di Indonesia.

Produk domestik bruto (PDB) juga menjadi standar dasar kesejahteraan suatu negara. Apabila semakin tinggi PDB nya maka akan semakin sejahtera pula rakyatnya, walaupun banyak variabel lain yang mempengaruhinya.

Pada prinsipnya, PDB setiap berbeda-beda tergantung dengan kualitas produk yang dihasilkan, sdm, kondisi sosial politik, dan lainnya. Namun, pada realitanya masih banyak negara yang memiliki PDB yang rendah, termasuk negara Indonesia. Nah, agar kita lebih memahami apa itu pengertian dan konsep pendapatan nasional, mari kita bahas topik secara lebih rinci.

Apa Yang Dimaksud Dengan Pendapatan Nasional?

Pendapatan nasional adalah semua pendapatan yang diterima oleh seluruh anggota masyarakat atau seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dalam kurun waktu tertentu, biasanya satu tahun. Selain itu, pendapatan dalam negeri juga dapat diartikan sebagai hasil produksi dalam negeri yang artinya nilai produksi yang dihasilkan oleh seluruh anggota masyarakat di suatu negara dalam kurun waktu tertentu, umumnya dalam kurun waktu satu tahun.

Informasi pendapatan nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur perkembangan tingkat pembangunan dan kesejahteraan suatu negara dari masa ke masa. Dengan metode penghitungan pendapatan nasional seseorang dapat mengetahui arah, tujuan dan struktur perekonomian negara.

Manfaat Menghitung Pendapatan Nasional

Konsep dasarnya penghitungan pendapatan nasional dilakukan untuk mengetahui perkembangan ekonomi suatu negara. Selain itu, menghitung pendapatan nasional menjadi penting karena memiliki banyak keuntungan, yaitu:

  • Mengetahui tingkat kemakmuran suatu negara
  • Evaluasi kinerja ekonomi pada skala tertentu
  • Mengukur perubahan ekonomi dari waktu ke waktu
  • Perbandingan kinerja ekonomi antar sektor
  • Indikator kualitas hidup masyarakat suatu negara
  • Indikator perbandingan kinerja di sektor ekonomi antar negara
  • Sebagai indikator perbandingan kualitas hidup suatu negara dengan negara lain
  • Sebagai ukuran dan perbandingan pertumbuhan ekonomi dari waktu ke waktu
  • Menjadi ukuran dan perbandingan pertumbuhan ekonomi dan kekayaan antar negara

Konsep Perhitungan Pendapatan Nasional

Dalam perhitungan pendapatan nasional dibutuhkan kategori-kategori dalam pendapatan nasional itu sendiri. Pada prinsipnya pendapatan nasional dibagi menjadi 6 (enam) kategori, antara lain:

1. Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk domestik bruto atau gross domestic product adalah total produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit produksi dalam batas suatu negara atau nasional dalam kurun satu tahun.

GDP = Pendapatan Domestik (Nasional) + Pendapatan Asing Dalam Negeri

Perhitungan PDB ini termasuk barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan atau instansi asing terkait, selama wilayah tersebut masih dalam wilayah suatu negara atau nasional. Misalnya seperti Perusahaan A dari Jepang yang memiliki cabang di Indonesia, hasil barang dan jasa tersebut dimasukkan ke dalam PDB. Barang yang diproduksi termasuk modal yang belum dihitung dan oleh karena itu bersifat bruto (kotor).

2. Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk nasional bruto adalah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama kurun waktu satu tahun, termasuk yang diproduksi oleh warga negara tersebut yang diproduksi di negara asing. Misalnya seorang pria Indonesia yang berjualan pakaian di Malaysia, maka hasil berupa barang dan jasa dimasukkan dalam GNP.

GNP = Pendapatan warga negara + Pendapatan warga negara (luar negeri) – Pendapatan asing dalam negeri

3. Produk nasional bersih (National Netto Product)

NNP = GNP – depresiasi (penyusutan barang modal)

Depresiasi adalah penggantian peralatan untuk peralatan produksi yang digunakan dalam proses produksi. Mereka umumnya merupakan perkiraan, sehingga dapat menyebabkan kesalahan meskipun relatif kecil.

4. Pendapatan Nasional Bersih (Net National Income)

Pendapatan nasional bersih (NNI) adalah pendapatan yang dihitung berdasarkan besarnya remunerasi yang diterima masyarakat sebagai pemilik faktor-faktor produksi.

NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung 

Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat ditransfer ke pihak lain, seperti pajak hadiah, pajak penjualan dan lain-lain.

5. Pendapatan Perseorangan (Personal Income)

Pendapatan pribadi adalah jumlah pendapatan yang diterima semua anggota masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan aktivitas apa pun. Misalnya, gaji seorang pegawai negeri, serta pendapatan majikan yang diperoleh secara berantai.

PI = NNI – Pajak perusahaan – Iuran – Laba Ditahan + Transfer Payment 

Pembayaran transfer adalah pendapatan yang bukan merupakan remunerasi untuk jasa produksi, tetapi diambil sebagai bagian dari pendapatan nasional tahun lalu. Seperti pembayaran dana pensiun, tunjangan pengangguran, dll.

6. Pendapatan Yang Dapat Dibelanjakan 

Dikenal juga dengan disposable income, yaitu pendapatan yang dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa konsumen dan sisanya menjadi tabungan yang disalurkan ke investasi.

DI = PI – Pajak langsung

Pajak langsung yaitu pajak yang bebannya tidak bisa dialihkan kepada pihak lain, seperti pajak penghasilan.

Klasifikasi Perekonomian Indonesia

Berdasarkan data yang dirilis oleh International Standard Industrial Classification (ISIC), perekonomian Indonesia terbagi menjadi beberapa sektor atau bidang usaha menjadi tiga kelompok, antara lain:

1. Sektor primer

Sektor primer meliputi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia pada umumnya yaitu sandang, papan dan pangan. Bisnis pada sektor ini mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian.

2. Sektor sekunder

Sektor sekunder merupakan sektor yang masih menampung kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari, meskipun bukan merupakan kebutuhan pokok. Bisnis pada sektor ini terdiri dari industri manufaktur, listrik, energi, air dan gas.

3. Sektor tersier

Sektor tersier merupakan sektor yang mengandung hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan pokok bahkan dapat digolongkan sebagai kemewahan dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis sektor ini terdiri dari perdagangan, hospitality, restoran, angkutan, travel, telekomunikasi, pendidikan dan jasa lainnya.

Kesimpulan

Dengan memahami konsep pendapatan nasional maka kita bisa mengetahui bagaimana memposisikan bisnis pada sektor yang tepat. Selain itu dengan data tersebut perusahaan dapat menentukan strategi bisnis apa yang harus diterapkan.

0 Shares:
Leave a Reply